Melintik Pembuatan Seeng


 Melintik Pembuatan Seeng 


Seeng, kata yang tak gila bukan ditelinga kita? Yah mungkin gila bagi para dewasa dizaman sekarang, namun bagi para petuah seeng merupakan  hal yang erat ditelinga mereka. tahu kenapa? lantaran seeng salah satu alat masak tradisional yang sering dipakai oleh para petuah dizaman dulu.


  Asal mula seeng itu bukanlah dari sunda namun orang jawalah yang membawanya ke sunda yang mana dalam bahasa jawa itu disebut sebagai “dandang” .

Seeng (dandang) yakni suatu daerah untuk memasak nasi yang sudah diaroni. Seeng berbentuk tinggi ramping, bab dalam berongga menyerupai silinder, bab bawah membesar, bab atas membesar, menyempit di tengah dan alasnya lingkaran agak cembung. Menurut Bapak Daman salah satu pengrajin seeng menyampaikan bahwa, “Bahan bakunya dulu terbuat dari tembaga, namun ketika ini dibentuk dari alumunium”.

 Seeng ini merupakan alat memasak masakan yang paling penting, terutama untuk memenuhi masakan pokok yakni Nasi. Oleh alasannya yakni itu hampir setiap masyarakat sunda mempunyai seeng yang dipakai untuk memasak nasi, sekalipun dengan ukuran yang berbeda contohnya ada yang kecil, sedang atau besar.

Membuat seeng memang tidak mudah, Bapak Daman saja sebagai pengrajin seeng diperlukan 1 tahun untuk mempelajari  pembuatan seeng, cara menciptakan seeng yaitu pertama beli alumunium,1 alumunium  ada 10 lembar pecahkan alumunium di daerah toko besi, habis itu di tempa atau dipecah - pecahkan (takolan) dari besi, yang mana 1 hari 1 untuk dipecahkan, seeng ada 3 bab nah untuk menciptakan 3 bab itu dalam 1 hari hanya menerima 2 bab untuk di pecah dan disambung.

 Jadi hanya sanggup atas dan badannya. habis itu disambung dengan alat rel kereta api atau memakai (jeleus), tapi sesudah disambungin atau dilipat - lipat alumuniumnya. habis itu dipukul-pukul hingga menyatu. Atau dibilang memakai seni. Gak perlu pake paku . habis itu digosong biar putih kemudian dicuci memakai air kimia dan sesudah itu dicuci lagi pakai air biasa dan dikeringkan 5 menit kemudian jadi deh.

Karena pembuatannya yang cukup lama, Pak Daman dan Pak Odeng hanya sanggup memproduksi sedikit perminggunya,  seeng itu ada 3 bagian: 1 atas. 2 badan. 3 penutup, nah 1 hari itu hanya sanggup 2 bab aja atas sama epilog jadi dalam seminggu hanya sanggup 2 seeng yang utuh. Tapi jikalau dulu kan seeng dari tembaga jadi 1 ahad hanya produksi 1 seeng, dan harga satu buah seeng di hargai sekitar 150-200 ribuan,

Dari segi kualitas memasak nasi, seeng bantu-membantu mempunyai kelebihan yang cukup banyak ketimbang rice cooker, selain lebih kondusif dan nasi lebih mengembang, pembuangan uap dalam seeng lebih elok ketimbang rice cooker, berdasarkan para ahli, memasak nasi memakai seeng membuang banyak kadar gula dalam nasi, namun bila memasak dengan rice cooker, pembuangan uapnya kurang maksimal jadi kadar gula dalam nasinya masih banyak.

    Dulu di Cikaleng desa Cileunyi kulon banyak pengrajin seeng, tapi lantaran perkembangan teknologi yang semakin maju dan daya beli masyarakat sudah berkurang, banyak dari pengrajin seeng yang beralih profesi. Kini yang tersisa hanya Produksi rumahan Pak Daman dan Pak Oden. Entah hingga kapan mereka akan terus menciptakan seeng, namun dengan perkembangan alat teknologi yang sangat pesat, sanggup dipastikan seeng akan dilupakan dan tergantikan oleh alat – alat modern .
   

Keelokan Kampung Naga

Keelokan Kampung Naga
 
Mahasiswa Uin Sunan Gunung Djati Bandung berkunjung ke Kampung Naga, secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. 





Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat alasannya ialah di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di kawasan Garut.

Mahasiswa dan Mahasiswi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi ini melaksanakan Observasi untuk mengetahui lebih dalam apa itu Kampung Naga dan Bagaimana Kebudayaan yang ada disana, Kampung Naga merupakan sebuah kampung susila yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang susila tradisi nenek moyang mereka.

 Mereka menolak intervensi dari pihak luar kalau hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak mempunyai titik terang.

Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih besar lengan berkuasa ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor".

Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam. Pengajaran mengaji bagi bawah umur di Kampung Naga dilaksanakan pada malam Senin dan malam Kamis, sedangkan pengajian bagi orang bau tanah dilaksanakan pada malam Jumat.

Dalam menunaikan rukun Islam yang kelima atau ibadah Haji, mereka beranggapan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Tanah Suci Mekkah, namun cukup dengan menjalankan upacara Hajat Sasih yang waktunya bertepatan dengan Hari Raya Haji yaitu setiap tanggal 10 Rayagung (Dzulhijjah).

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, materi rumah dari bambu dan kayu.
Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu.

Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah dilarang dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah dilarang memakai tembok, walaupun bisa menciptakan rumah tembok atau gedung (gedong).

Rumah dilarang dilengkapi dengan perabotan, contohnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah dilarang mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan.

Karena berdasarkan anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

Berenang Bersama Ikan Di Umbul Ponggok

Berenang Bersama Ikan di Umbul Ponggok 


Umbul Ponggok ialah wisata air yang terletak di desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Umbul Ponggok merupakan mata air yang biasa dimanfaatkan sebagai pemandian dan snorkeling. Kolam Umbul Ponggok berukuran panjang 70 m dan lebar 40 m, mata air terletak pada dasar bak dan terus mengalirkan air sehingga bak Umbul Ponggok cenderung jernih.

Pada dasar bak terdapat ikan dan batu-batuan sehingga bak Umbul Ponggok kerap dipakai sebagai lokasi foto dibawah air. Dan air didalam Umbul Ponggok ini terus mengalir, terdapat sumber mata air dari dasar bak dan dialirkan melalui sungai menciptakan bak ini terus jernih dan tidak berbau walaupun banyak terdapat ikan didalamnya.

Didasar bak pun sanggup kita temui keunikan lainya yaitu, disekitar sumber mata air yang berasal dari dasar bak terdapat semburan gelembung-gelembung kecil yang sangat indah.

"Selain airnya bersih, disini juga ikannya banyak dan juga bersar-besar jadi kita serasa berenang dilaut asikk deh pokonya". Ujar Diki, salah satu pengunjung dari Kota Bandung.(31/12/15)



Dengan ber-snorkling para pengunjung sanggup menikmati jernih dan segarnya air sambil melihat ikan air tawar yang bermacam-macam jenis. Ikan-ikan di sini sudah familiar dengan keberadaan para pengunjung yang berenang sehingga acapkali menjadi obyek fotografi bawah air yang menarik pengunjung.

Di Umbul Ponggok sudah tersedia kemudahan yang cukup lengkap, para pengelola sudah menyediakan alat-alat snorkeling dan diving serta pelampung, ban pelampung dan kamera bawah air. Jika berkunjung kesini dengan membawa serta belum dewasa anda, jangan khawatir alasannya ialah disini juga sudah disediakan bak untuk belum dewasa lengkap dengan wahananya.

Fasilitas lainnya juga sudah disediakan ibarat kamar mandi, mushola, warung makan yang menyajikan makanan ikan. Bagi anda yang membawa ponsel atau kamera sendiri untuk berfoto, disini juga ada yang menyediakan jasa laminating kamera ponsel atau kamera.

Pesona Pantai Klayar


Pesona Pantai Klayar 


Pantai Klayar Pacitan menyimpan sejumlah keindahan alam yang mengagumkan. Anda sanggup menemukan pesona dan keunikannya pada hamparan pasir yang putih, adanya karang raksasa laksana Sphinx, air mancur alami sampai setinggi 10 meter, serta bebatuan karang dengan bentuk yang unik dan suguhan seruling samudera.

sebuah pantai dengan pasir putih dan kerikil karang serta tebing-tebing kerikil yang mengelilingi, Pantai ini terletak di Pacitan, Jawa Timur dan berbatasan dengan Wonogiri, Jawa Tengah, Tepatnya berada di desa Kalak, kecamatan Doonorojo, Kabupaten Pacitan. Jaraknya sekitar 40 km ke arah barat dari kota Pacitan. Pantai ini masih segaris dengan Pantai Teleng Ria yang sudah dikelola sebagai daerah wisata terlebih dahulu.

Pantai Klayar Pacitan sanggup dikatakan sebagai pantai yang sangat cocok untuk olahraga selancar. Pada waktu-waktu tertentu, ombak yang ada di Pantai Klayar sangat cocok untuk berselancar. Selain itu, panorama pantai yang begitu biru dengan pasirnya yang begitu lembut akan menciptakan para wisatawan betah berlama-lama di pantai ini.

" Objek Wisata Pantai Klayar Pacitan ini juga terdapat karang-karang besar yang sanggup di naiki. Sangat cocok untuk dijadikan lokasi pemotreatan, baik untuk pre-wedding". Ujar Dede, salah satu pengunjung dari Kota Bandung.(01/01/16)

 Angin yang berhembus kencang di atas karang-karang menciptakan Anda makin terhanyut menikmati pesona Wisata Pantai Klayar ini. Dari atas karang-karang ini juga Anda sanggup melihat hamparan biru maritim tak berbatas di iringi bunyi hempasan ombak menerpa karang.